19.11.09
Kelak Allah tutup aibnya di akhirat

assalamualaikum w.b.t.
Tazkirah : Usah buka aib sesama Muslim
Bersama Mohd Zawawi Yusoh
Kelak Allah tutup aibnya di akhirat
DALAM satu hadis Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: "Sesiapa yang menutup keaiban saudaranya sesama Muslim, kelak Alah akan tutup aibnya di akhirat."
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* **
Cubakita sama-sama teliti satu kisah di zaman Nabi Musa a.s. Pada suatu ketika Bani Israel ditimpa musim kemarau yang berpanjangan. Mereka berkumpul dan datang menemui nabi.
Mereka berkata: "Ya Kaliimallah! Berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami."
Berangkatlah Nabi Musa bersama kaumnya menuju ke padangpasir yang luas. Dengan jumlah yang ramai itu mereka berdoa dalam keadaan lusuh dan penuh debu, haus serta lapar.
Nabi Musa berdoa: "Ilaahi! Asqinaa ghaitsak...wansyur 'alaina rahmatak..."
Selepas itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin berkilauan. Maknanya segumpal awan pun tidak muncul jua.
Kemudian Nabi Musa berdoa lagi: "Ilaahi...asqinaa. .."
Allah pun berfirman kepada Nabi Musa, maksudnya: "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba di kalangan yang hadir berdoa bermaksiat sejak 40 tahun lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Kerana dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian..."
Lalu Nabi Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya: "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun...keluarlah ke hadapan kami...kerana engkaulah hujan tidak turun..."
Seorang lelaki melirik ke kanan dan kiri. Tidak seorang pun yang keluar di hadapan manusia. Saat itu pula dia sedar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Dia berkata dalam hatinya: "Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tidak akan turun."
Hatinya pun gundah gulana. Air matanya pun menetes, menyesali perbuatan maksiatnya, sambil berkata di dalam hati: "Ya Allah! Aku sudah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada-Mu, maka terimalah taubatku."
Tidak lama selepas pengakuan taubatnya itu, awan-awan tebal pun muncul. Semakin lama semakin tebal menghitam dan akhirnya turunlah hujan.
Nabi Musa kehairanan. "Ya Allah, Engkau sudah turunkan hujan kepada kami, namun tidak seorang pun yang keluar di hadapan manusia."
Allah berfirman, maksudnya: "Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang kerananya hujan tidak kunjung turun.."
Nabi Musa berkata: "Ya Allah! Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
Allah berfirman, maksudnya: "Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku. Apakah Aku membuka aibnya sedangkan dia taat kepada-Ku!"
Semoga cerita ini menjadikan kita hamba yang tidak menghina dan mengaibkan kesalahan yang dilakukan seseorang.
Bukan itu sahaja, kita juga dilarang mendedahkan keaiban sendiri. Tetapi hal ini sering terjadi dalam dunia yang hangat dengan kejungkilan kisah dosa peribadi, kadang-kadang menjadi pelaris dan menghangatkan lagi buku dan siaran televisyen.
" wahai tuhan ku, aku tak layak kesyurgamu ...namun tak pula aku sanggup keNerakamu.. .......,kami lah hamba yang mengharap belas darimu ........Ya Allah jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa.... ..ampunkan dosa2 kami, kedua ibubapa kami, dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia.
17.11.09
SIFAT MALU DAN KEUTAMAANNYA

Assalamualaikum Wr Wb
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi, Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat, Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik, Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik, Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, QS. Shaad (38) : 45.- 49 (pen)
679. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Malu itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu melaksanakan shalat karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.
Dalam hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan' Abu Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki."
Adapun Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat."
Ada pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia, sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal itu termasuk sesuatu yawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
680. Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh akibatnya." Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik akibatnya."
Yang dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak dibenarkan oleh agama.
681. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu." (Muttafaq 'alaih)
682. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya - yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang menyebabkan seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak." Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."
Wallahu a'lam.
ps : dri sahabat..
22.9.09
PUASA ENAM BULAN SYAWAL

Dalil disyariatkan ibadah puasa sunat Syawal adalah sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud:
Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang masa.“
Hadis riwayat Imam Muslim.
Puasa pada bulan Ramadan dibalas dengan ganjaran bersamaan sepuluh bulan (iaitu bersamaan dengan 300 hari), puasa enam hari (pada bulan Syawal) pula mendapat ganjaran sebanyak dua bulan (iaitu bersamaan dengan 60 hari), yang demikian itu menjadi sunah yang sempurna, maka tercapailah pahala beribadah setahun tanpa kesulitan sebagai kurnia daripada Allah dan nikmat ke atas hamba-Nya.
“ Taudhih al-Ahkam min Bulughul Maraam, jilid 3, ms. 576, Pustaka Azzam.
Cara yang paling utama untuk melaksanakannya adalah memulakan berpuasa sesudah Hari Raya Aidilfitri secara langsung (iaitu pada tarikh 2 Syawal), berturut-turut sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama. Ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafie. Namun begitu seseorang juga bebas memilih mana-mana hari sepanjang bulan Syawal sama ada di awal, pertengahan mahupun akhirnya dia juga boleh mengerjakan secara berturut-turut mahupun berpisah-pisah.
16.9.09
21.8.09
COMMON MISTAKES DURING RAMADHAN ALMUBARAK

Some Common Mistakes in Ramadhan
Lets Strive Not to Repeat the Same.
By Asma binti Shamim
1 : Taking Ramadhan as a ritual
For many of us Ramadhan has lost its spirituality and has become more of a ritual than a form of Ibadah. We fast from morning to night like a zombie just because everyone around us is fasting too. We forget that its a time to purify our hearts and our souls from all evil....we forget to make doa, forget to beseech Allah to forgive us and ask Him to save us from the Fire. Sure we stay away from food and drink but that's about all.
Although the Prophet said:
Jibril said to me, May Allah rub his nose in the dust, that person to who Ramadan comes and his sins are not forgiven, and I said, Amin.
Then he said, May Allah rub his nose in the dust, that person who lives to see his parents grow old, one or both of them, but he does not enter Paradise (by not serving them) and I said, Amin.
Then he said, May Allah rub his nose in the dust, that person in whose presence you are mentioned and he does not send blessings upon you, and I said, Amin..
(Tirmidhi, Ahmad, others. Sahih by al-Albaani)
2 : Too much stress on food and drink
For some people, the entire month of Ramadan revolves around food. They spend the ENTIRE day planning, cooking, shopping and thinking about only food, instead of concentrating on Solah, Quran and other acts of worship. All they can think of is FOOD. So much so that they turn the month of fasting into the month of feasting. Come breaking fast time, their table is a sight to see, with the multitudes and varieties of food, sweets and drinks. They are missing the very purpose of fasting, and thus, increase in their greed and desires instead of learning to control them. It is also a kind of waste & extravagance.
".....and eat and drink but waste not by extravagance, certainly He (Allaah) likes not those who waste by extravagance) " [al-Araaf :31]
3 : Spending all day cooking
Some of the sisters (either by their own choice or forced by their husbands) are cooking ALL day and ALL night, so that by the end of the day, they are too tired to even pray Isyak, let alone pray Tarawih or Tahajjud or even read Quran. This is the month of mercy and forgiveness. So turn off that stove and turn on your Iman!
4 : Eating too much
Some people stuff themselves at Sahur until they are ready to burst, because they think this is the way to not feel hungry during the day and some people eat at breakingfast, like there is no tomorrow, trying to make up for the food missed. However, this is completely against the Sunnah. Moderation is the key to everything.
The Prophet said: "The son of Adam does not fill any vessel worse than his stomach; for the son of Adam a few mouthfuls are sufficient to keep his back straight. If you must fill it, then one-third for food, one-third for drink and one-third for air." (Tirmidhi, Ibn Majah. sahih by al-Albani).
Too much food distracts a person from many deeds of obedience and worship, makes him lazy and also makes the heart heedless.
It was said to Imam Ahmad: Does a man find any softness and humility in his heart when he is full? He said, I do not think so.
5 : Sleeping all day
Some people spend their entire day (or a major part of it) sleeping away their fast. Is this what is really required of us during this noble month? These people also are missing the purpose of fasting and are slaves to their desires of comfort and ease. They cannot bear to be awake and face a little hunger or exert a little self-control. For a fasting person to spend most of the day asleep is nothing but, negligence on his part.
6 : Wasting time
The month of Ramadan is a precious, precious time, so much so that Allah calls this month 'A fixed number of days'. Before we know it, this month of mercy and forgiveness will be over. We should try and spend every moment possible in the worship of Allah so that we can make the most of this blessing. However, there are some of us who waste away their day playing video games, or worse still, watching TV, movies or even listening to music. Trying to obey Allah by DISOBEYING him!
7 : Fasting but not giving up evil
Some of us fast but do not give up lying, cursing, fighting, backbiting, etc. and some of us fast but do not give up cheating, stealing, dealing in haram businesses, buying lotto tickets, selling alcohol, fornication, etc. and all kinds of impermissible things without realizing that the purpose of fasting is to not stay away from food and drink; rather the aim behind it is to fear Allah.
'O you who believe! Fasting is prescribed for you as it was prescribed for those before you, that you may become Al-Muttaquun (the pious)' [al-Baqarah 2:183]
The Prophet said: "Whoever does not give up false speech and acting upon it, and ignorance, Allah has no need of him giving up his food and drink." (Bukhari)
8 : Smoking
Smoking is forbidden in Islam whether during Ramadan or outside of it, as it is one of evil things. And this includes ALL kinds of smoking material eg.cigars, cigarettes, pipes, sheesha etc.
"he allows them as lawful all good and lawful things, and prohibits them as unlawful all evil and unlawful things [al-Araaf :157]
It is harmful, not only to the one smoking, but also to the ones around him. It is also a means of wasting ones wealth.
The Prophet said: "There should be no harming or reciprocating harm."
This is especially true during fasting and it invalidates the fast. (Fatwa -Ibn Uthaymin)
9 : Skipping Sahur
The Prophet said: "Eat sahur for in sahur there is blessing."(Bukhari, Muslim).
And he said: "The thing that differentiates between our fasting and the fasting of the People of the Book is eating sahur." (Muslim)
11 : Not fasting if they missed Sahur
Some people are too scared to fast if they miss Sahur. However, this is a kind of cowardice and love of ease. What is the big deal if you missed a few morsels of food? Its not like you will die. Remember, obedience to Allah overcomes everything.
13 : Delaying breaking fast
Some people wait until the azn finishes or even several minutes after that, just to be on the safe side. However, the Sunah is to hasten to break the fast, which means breaking fast whenever the azan starts, right after the sun has set. Aishah (RA) said: This is what the Messenger of Allah used to do. (Muslim)
The Prophet said: "The people will continue to do well so long as they hasten to break the fast." (Bukhaari, Muslim)
Determine to the best of your ability, the accuracy of your clock, calendar, etc. and then have tawakkal on Allah and break your fast exactly on time.
14 : Eating continuously until the time for Maghrib is up
Some people put so much food in their plates when breaking their fast and continue eating, enjoying dessert, drinking tea, etc., until they miss Maghrib. That is obviously not right. The Sunnah of the Prophet (pbuh) was that once he broke his fast with some dates, them he would hasten to the prayer. Once you are done with the prayer, you can always go back and eat some more if you wish.
15 : Missing the golden chance of having your Doa accepted
The prayer of the fasting person is guaranteed to be accepted at the time of breaking fast.
The Prophet "Three prayers are not rejected: the prayer of a father, the prayer of a fasting person, and the prayer of a traveler." (al-Bayhaqi, sahih by al-Albani).
Instead of sitting down and making Doa at this precious time, some people forego this beautiful chance, and are too busy talking, setting the food, filling their plates and glasses, etc. Think about it....Is food more important than the chance to have your sins forgiven or the fulfillment of your Doas.
16 : Fasting but not praying
The fasting of one who does not pray WILL NOT BE ACCEPTED. This is because not praying constitutes kufr as the Prophet said: "Between a man and shirk and kufr there stands his giving up prayer." (Muslim)
In fact, NONE of his good deeds will be accepted; rather, they are all annulled.
"Whoever does not pray Asr, his good deeds will be annulled." (Bukhaari)
17 : Fasting and not wearing Hijab
Not wearing the Hijab is a major sin as it is obligatory for Muslim women. (See Surah Nur, Surah Ahzaab). So fasting and not wearing hijab certainly takes away enormously from the rewards of fasting, even if does not invalidate it.
18 : Not fasting because of exams or work
Exams or work is NOT one of the excuses allowed by the Shariah to not fast. You can do your studying and revision at night if it is too hard to do that during the day. Also remember that pleasing and obeying Allah is much more important than good grades. Besides, if you will fulfil your obligation to fast, even if you have to study, Allah will make it easy for you and help you in everything you do.
"Whosoever fears Allah, He will appoint for him a way out and provide for him from where he does not expect, Allah is Sufficient for whosoever puts his trust in Him." (Surah at-Talaaq 2-3)
19 : Mixing fasting and dieting
DO NOT make the mistake of fasting with the intention to diet. That is one of the biggest mistakes some of us make (esp. sisters). Fasting is an act of worship and can only be for the sake of Allah alone.
Otherwise, mixing it with the intention of dieting may become a form of (minor) Shirik.
20 : Fighting over the number of Rakaat of Tarawih
There is no specific number of rakahs for Tarawih prayer, rather it is permissible to do a little or a lot. Both 8 and 20 are okay. Sheikh Ibn Uthaymeen said: "No one should be denounced for praying eleven or twenty-three (rakaat), because the matter is broader in scope than that, praise be to Allah."
21 : Praying ONLY on the night of the 27th
Some people pray ONLY on the 27th to seek Lailatul-Qadar, neglecting all other odd nights, although the Prophet said: "Seek Lailatul-Qadr among the odd numbered nights of the last ten nights of Ramadaan." (Bukhaari, Muslim).
22 : Wasting the last part of Ramadan preparing for Eidulfitri
Some people waste the entire last 10 days of Ramadan preparing for Eidulfitri, shopping and frequenting malls, etc. neglecting Ibadah and Lailatul Qadr. although, the Prophet used to strive the hardest during the last ten days of Ramadan in worship (Ahmad, Muslim) and not in shopping. Buy whatever you need for Eidulfiri before Ramadhan so that you can utilize the time in Ramadan to the max.
Aaishah (RA) said: When the (last) ten nights began, the Messenger of Allah would tighten his waist-wrapper (i.e., strive hard in worship or refrain from intimacy with his wives), stay awake at night and wake his family. (Bukhari and Muslim).
11.8.09
JIKA ALLAH MAHA BAIK, KENAPA BUAT NERAKA??

Ini kisah benar..
kisah seorang gadis Melayu, beragama Islam, tapi cetek pengetahuan tentang agama. Ceritanya begini, di sebuah negeri yang melaksanakan dasar 'Membangun Bersama Islam', kerap kali pihak berkuasa tempatan menjalankan pemeriksaan mengejut di premis-premis perniagaan dan kompleks beli-belah, untuk memastikan para pekerja di premis berkenaan menutup aurat.
tak pasti berapa jumlah denda yang dikenakan sekiranya didapati melakukan kesalahan, tapi selalunya mereka akan diberi amaran bagi kesalahan pertama, dan didenda jika didapati masih enggan mematuhi garis panduan yang ditetapkan. Lazimnya dalam setiap operasi sebegini, seorang ustaz ditugaskan bersama dengan para pegawai pihak berkuasa tempatan. Tugasnya adalah untuk menyampaikan nasihat secara berhemah, kerana hukuman dan denda semata-mata tidak mampu memberi kesan yang mendalam.
Dalam satu insiden, ketika operasi yang dijalankan sekitar 2005, seorang gadis yang bekerja di salah satu lot premis perniagaan di Pasaraya Billion telah didapati melakukan kesalahan tidak menutup aurat. Maka dia pun kena denda la...setelah surat saman dihulurkan oleh pegawai PBT, ustaz ni pun bagi la nasihat, "..lepas ni diharap saudari insaf dan dapat mematuhi peraturan..peratura n ni bukan semata-mata peraturan
majlis perbandaran, tapi menutup aurat ni termasuk perintah Allah. Ringkasnya, kalau taat segala perintahNya, pasti Dia akan membalas dengan nikmat di syurga..kalau derhaka tak nak patuhi perintahNya, takut nanti tak sempat bertaubat, bakal mendapat azab di neraka Allah. Tuhan Maha Penyayang, Dia sendiri tak mahu kita campakkan diri ke dalam neraka..."
Gadis tersebut yang dari awal mendiamkan diri,tiba-tiba membentak "Kalau Tuhan tu betul-betul baik, kenapa buat neraka? Kenapa tak boleh sediakan syurga je? Macam tu ke Tuhan Maha Penyayang?" Mungkin dari tadi dia dah panas telinga, tak tahan dengar
nasihat ustaz tu..dah la hati panas kena denda sebab dia tak pakai tudung..
Ustaz tu terkedu sekejap. Bahaya budak ni. Kalau dibiarkan boleh rosak akidah dia. Setelah habis gadis tu membebel, ustaz tu pun jawab:"Dik, kalau Tuhan tak buat neraka, saya tak jadi ustaz. Berapa sen sangat gaji saya sekarang. Baik saya jadi tokey judi, atau bapa ayam.. hidup senang, lepas mati pun tak risau sebab gerenti
masuk syurga... Mungkin awak ni pun saya boleh culik dan jual jadi pelacur. Kalau awak nak lari, saya bunuh je. Takpe, sebab neraka tak ada. Nanti kita berdua jumpa lagi kat syurga..Kan Tuhan tu baik?"
Gadis tu terkejut. Tergamak seorang ustaz cakap macam tu? Sedang dia terpinga-pinga dengan muka confused, ustaz tu pun jelaskan: "perkara macam tadi akan berlaku kalau Tuhan hanya sediakan syurga. Orang baik,orang jahat, semua masuk syurga..maka apa guna jadi orang baik? Jadi orang jahat lebih seronok. Manusia tak perlu lagi diuji sebab semua orang akan 'lulus' percuma. Pembunuh akan jumpa orang yang dibunuh dalam syurga..perogol akan bertemu lagi dengan mangsa rogol di syurga..lepas tu boleh rogol lagi kalau dia nak..takde siapa yang terima hukuman. Sebab Tuhan itu 'baik'. Adakah Tuhan macam ni yang kita nak? Awak rasa, adil ke?"; tanya ustaz.
"Ah...mana adil macam tu. Orang jahat takkan la terlepas camtu je.." rungut si gadis.
Ustaz tersenyum dan menyoal lagi: "Bila tuhan tak adil, boleh ke dianggap baik?"
Gadis tu terdiam.
Ustaz mengakhiri kata-katanya:"Adik, saya bagi nasihat ni kerana kasih sesama umat Islam. Allah itu Maha Penyayang, tapi Dia juga Maha Adil. Sebab tu neraka perlu wujud. Untuk menghukum hamba-hambaNya yang derhaka, yang menzalimi diri sendiri dan juga orang lain. Saya rasa awak dah faham sekarang. Kita sedang diuji kat atas dunia ni. Jasad kita bahkan segala-galanya milik Allah, maka bukan HAK kita untuk berpakaian sesuka hati kita. Ingatlah; semuanya dipinjamkan olehNya, sebagai amanah dan ujian..semoga kita dapat bersabar dalam mentaati segala perintahNya, untuk kebaikan diri kita jugak.
Assalamu'alaikum. "
kedahlanie.blogspot






























































