Thursday, November 19, 2009
Kelak Allah tutup aibnya di akhirat

assalamualaikum w.b.t.
Tazkirah : Usah buka aib sesama Muslim
Bersama Mohd Zawawi Yusoh
Kelak Allah tutup aibnya di akhirat
DALAM satu hadis Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: "Sesiapa yang menutup keaiban saudaranya sesama Muslim, kelak Alah akan tutup aibnya di akhirat."
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* **
Cubakita sama-sama teliti satu kisah di zaman Nabi Musa a.s. Pada suatu ketika Bani Israel ditimpa musim kemarau yang berpanjangan. Mereka berkumpul dan datang menemui nabi.
Mereka berkata: "Ya Kaliimallah! Berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami."
Berangkatlah Nabi Musa bersama kaumnya menuju ke padangpasir yang luas. Dengan jumlah yang ramai itu mereka berdoa dalam keadaan lusuh dan penuh debu, haus serta lapar.
Nabi Musa berdoa: "Ilaahi! Asqinaa ghaitsak...wansyur 'alaina rahmatak..."
Selepas itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin berkilauan. Maknanya segumpal awan pun tidak muncul jua.
Kemudian Nabi Musa berdoa lagi: "Ilaahi...asqinaa. .."
Allah pun berfirman kepada Nabi Musa, maksudnya: "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba di kalangan yang hadir berdoa bermaksiat sejak 40 tahun lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Kerana dialah Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian..."
Lalu Nabi Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya: "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun...keluarlah ke hadapan kami...kerana engkaulah hujan tidak turun..."
Seorang lelaki melirik ke kanan dan kiri. Tidak seorang pun yang keluar di hadapan manusia. Saat itu pula dia sedar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Dia berkata dalam hatinya: "Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tidak akan turun."
Hatinya pun gundah gulana. Air matanya pun menetes, menyesali perbuatan maksiatnya, sambil berkata di dalam hati: "Ya Allah! Aku sudah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada-Mu, maka terimalah taubatku."
Tidak lama selepas pengakuan taubatnya itu, awan-awan tebal pun muncul. Semakin lama semakin tebal menghitam dan akhirnya turunlah hujan.
Nabi Musa kehairanan. "Ya Allah, Engkau sudah turunkan hujan kepada kami, namun tidak seorang pun yang keluar di hadapan manusia."
Allah berfirman, maksudnya: "Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang kerananya hujan tidak kunjung turun.."
Nabi Musa berkata: "Ya Allah! Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
Allah berfirman, maksudnya: "Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal dia bermaksiat kepada-Ku. Apakah Aku membuka aibnya sedangkan dia taat kepada-Ku!"
Semoga cerita ini menjadikan kita hamba yang tidak menghina dan mengaibkan kesalahan yang dilakukan seseorang.
Bukan itu sahaja, kita juga dilarang mendedahkan keaiban sendiri. Tetapi hal ini sering terjadi dalam dunia yang hangat dengan kejungkilan kisah dosa peribadi, kadang-kadang menjadi pelaris dan menghangatkan lagi buku dan siaran televisyen.
" wahai tuhan ku, aku tak layak kesyurgamu ...namun tak pula aku sanggup keNerakamu.. .......,kami lah hamba yang mengharap belas darimu ........Ya Allah jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa.... ..ampunkan dosa2 kami, kedua ibubapa kami, dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia.
Tuesday, November 17, 2009
SIFAT MALU DAN KEUTAMAANNYA

Assalamualaikum Wr Wb
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi, Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat, Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik, Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik, Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, QS. Shaad (38) : 45.- 49 (pen)
679. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)
Malu itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu melaksanakan shalat karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.
Dalam hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan' Abu Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguhnya di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki."
Adapun Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat."
Ada pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia, sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal itu termasuk sesuatu yawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."
680. Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh akibatnya." Atau beliau s.a.w. bersabda: "Malu itu semuanya baik akibatnya."
Yang dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak dibenarkan oleh agama.
681. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keimanan itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu." (Muttafaq 'alaih)
682. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu lebih sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya - yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau s.a.w. melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)
Para alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang menyebabkan seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak." Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."
Wallahu a'lam.
ps : dri sahabat..
Tuesday, September 22, 2009
PUASA ENAM BULAN SYAWAL

Dalil disyariatkan ibadah puasa sunat Syawal adalah sabda Rasulullah s.a.w. bermaksud:
Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang masa.“
Hadis riwayat Imam Muslim.
Puasa pada bulan Ramadan dibalas dengan ganjaran bersamaan sepuluh bulan (iaitu bersamaan dengan 300 hari), puasa enam hari (pada bulan Syawal) pula mendapat ganjaran sebanyak dua bulan (iaitu bersamaan dengan 60 hari), yang demikian itu menjadi sunah yang sempurna, maka tercapailah pahala beribadah setahun tanpa kesulitan sebagai kurnia daripada Allah dan nikmat ke atas hamba-Nya.
“ Taudhih al-Ahkam min Bulughul Maraam, jilid 3, ms. 576, Pustaka Azzam.
Cara yang paling utama untuk melaksanakannya adalah memulakan berpuasa sesudah Hari Raya Aidilfitri secara langsung (iaitu pada tarikh 2 Syawal), berturut-turut sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama. Ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafie. Namun begitu seseorang juga bebas memilih mana-mana hari sepanjang bulan Syawal sama ada di awal, pertengahan mahupun akhirnya dia juga boleh mengerjakan secara berturut-turut mahupun berpisah-pisah.

























































